Header


Sabtu, 25 Desember 2010

3 DI HATI KELEWAT IMBAS



oleh Djazlam Zainal pada 25 Desember 2010 jam 16:34


Sudah tentu dalam waktu sesingkat ini, tidak mungkin saya melihat 3 Di Hati secara detail. Walau bagaimana pun, saya sangat berbesar hati diberi penghormatan oleh Lapena untuk membedah isi 3 Di Hati di hari peluncuran hari ini. Secara mukanya saja, ketiga-tiga penyair ini telah biasa saya kecapi hasil karyanya. Diah Hadaning ( Jakarta ) sudah saya kenali sejak lebih 30 tahun lalu. Ketika itu beliau hadir di Kuala Lumpur sekitar tahun 1984 dan saya ketika itu masih belia. Mbak Diah ( dalam usia 72 tahun sekarang ) menerima hadiah Puisi Putra  bersama dua penyair Malaysia iaitu A. Latif Mohidin dan Moechtar Awang. Setelah hampir tiga puluh tahun berselang, saya diketemukan lagi dengan karya-karya Mbak Diah biar bukan dengan orangnya ( Mbak Diah kesibukan untuk menghadiri peluncuran ini )

Kalau diteliti sebanyak 33 buah puisinya, rata-rata puis iMbak Diah dihasilkan dalam period yang sangat relatif singkat. Seluruhnya ditandai sekitar Oktober 2010 di tempat-tempat antaranya Tanjung Pinang, Pulau Penyengat, Jalan Bogor Raya dan lain-lain. Antara puisi yang terproduk adalah Membaca Bahasa Arus, Membaca Wajah-Wajah, Membaca Warna Biru, Mengeja Semak Bakau, Perempuan-Perempuan Berjilbab Kuning. Mbak Diah berkata,

katakan pada mendung
katakan pada awan
zikirnya memantik hati
lusa selalu bisa ditata kembali

( Perempuan-Perempuan Berjilbab Kuning. hal. 23 )

Bagi saya, Mbak Diah adalah penyair mapan yang karya puisi telah bertahab internasional. Mbak Diah telah dikenali di Malaysia dan Indonesia. Dan sebagai tonggak 3 Di Hati, Mbak Diah sebagai sebuah pelita seribu sumbu yang menceriahi penulis muda di bawahnya.

Dimas Arika Mihardja,( Jambi ) saya kenali lewat fesbuk dan sangat akrap dengan dunia kepenyairan Dimas. Puisi Dimas sangat khas suaranya, menjadi guru serta diikuti oleh penulis muda di bawahnya yang ikut nimbrong dalam puisi. Ini kerana setiap ujarannya sangat berkait dengan dunia sekitar. Malah beliau mencipta puisi khas untuk pengenalan bagi 33 puisi beliau. katanya,

Diah - semadi di bumi hening
            rambut putihnya gelora laut

Dimas - memanen senja
               melukis bianglala di dada

Deknong - berpijak bumi putih cintaku
                    melukis cakrawala
                    saat laut dan langit bertaut

( 3 Dimensi, hal. 51 ) 

Puisinya meraba ke seluruh arah, dari Merapi, Mentawai, Mentera Kamasutra hingga kepada Citra Yessika. Kepada Sastrawan Indonesia, Dimas menyalakan Anjung Cahaya. Pesannya pada mereka,

Jika benar ini marwah Melayu
Jangan biarkan semuanya menjadi layu

( Anjung Cahaya. hal. 89 ) 

Kepada mereka yang selalu bertanya siapa Yessika, Dimas menjawab.

Engkau pun merata detak di dada
Yessika bergaun merah duduk di atas putih cintaku
dan tahu garuda pancasila ada di situ

( Ranting Jiwa Yessika Dan Detak Data, hal. 71 ) 

Bagi saya Dimas adalah sisi baru penyair Indonesia yang harus diperhatikan. Cintanya besar sekali mencakup ke semua arah. Cinta anak muda, cinta orang tua, cinta antara gender, cinta tanahair, cinta yang terang tersuluh dan gelap, yang menyeluruh, semuanya digarap. Dimas tahu di mana cinta harus dipupuk dan ditumpuk dan cinta yang harus dilebur pada sat-saat cinta mengkabur. Harkat cintanya amat luas, mulus, halus dan sangat bagus, meliar ke kiri kanan, ngalur ngidul ke muka waktu yang amat sesuai.

Penyair ketiga yang harus diperkatakan dengan teliti ialah De Kemalawati ( Aceh ). Deknong ini adalah satu sosok yang vulgar yang sangat inprensif dan memberi sumber insprirasi kepada kami di Malaysia. Beliau adalah adindanya Siti Zainon Ismail, penyair kawakan kami. De, panggilan mesra saya, bagi membedakan panggilan Kemala yangi di Malaysia juga ada Kemala ( Dato' ) yang berlainan gender pula, adalah rumah kepada para seniman baik di Indonesia atau Malaysia.

Kumpulan puisi yang terdahulu Surat dari Negeri Tak Bertuan  menampilkan kekhasan beliau. 33 puisi dalam kumpulan ini sangat mencakup ruang mutakhir. Di dalamnya ada rasa rindu, ada janji, ada laut, ada sepi yang membadai dalam hatinya. De sangat mengakrap ke dalam dunia batin wanita. Lihatan sangat luas. Tuntutannya halus. Bagi saya suaranya sesuai diletakkan di mana-mana, kerana beliau tahu di mana keberadaannya. Baginya, wanita harus berketrampilan pada waktu yang sesuai. Tidak meribut sepanjang masa, atau terkutut setiap ketika. Dalam kumpulan ini, De agak terdorong ke dalam dirinya. Ada kangen, ada cinta, ada permohonan yang mahu dituntaskan sebagai wanita. Apa impiannya? Walau sebesar mana laungannya, ia akan kembali ke dalam dirinya yang sepi, yang mistri dan yang alus. Ada persamaan beliau dengan Siti Zainon ketika mendeklamasi puisi. Dari segi nafas dan lontaran vokalnya, juga keperkasaan srikandinya. Memang srikandi dia, kalau tidak diamati orangnya, orang akan bisa tersangka ia Siti Zainon. Persis amat.

Apa lagi yang harus saya perkatakan tentang wanita ini? Di luar diri sebagai penyair-pemuisi, wah, elok saja dibicarakan di Dhapukupi.

Pada keseluruhannya, 3 Di Hati adalah sebuah kalaborasi yang sangat berhasil. Satu kompilasi yang sangat bermakna. Saya akan menyambungkan sesampainya di Malaysia nanti, agar ianya bisa dijadikan bandingan dan contoh benar. Kekuatan emosi dan kehendak rupanya melebihi kebutuhan materi.  Contohnya, Lepana sebuah produk yang bukannya perusahaan besar dan hanya ditangani beberapa tenaga yang sangat minimal bisa mendorong kebesaran wibawa.  Juga kesungguhannya mengakrapkan hubungan jiwa yang amat besar dengan menemukan penyair Jakarta, Jambi, Aceh dan dibicarakan oleh kritikus Malaysia.

Akhir kata, sungguh amat berbesar hati dengan pelucuran ini. Suatu petanda bahawa sastra dan puisi tetap utuh walau ditelan seribu badai, seribu kerenah birokrasi. Saya bersyukur.


( Naskah penuh peluncuran buku 3 Di Hati, tanggal 23 Desember 2010, PWI Banda Aceh )

ZIARAH OMBAK DAN 6 TAHUN MEMPERINGATI TSUNAMI


oleh Djazlam Zainal pada 25 Desember 2010 jam 17:46



ESOK tanggal 26 Desember. Tanggal inilah pada 6 tahun lalu, tragedi yang meragut puluhan ribu jiwa melanda Aceh. Saya yang baru melepaskan jejak ke Aceh, sempat ziarah bekas-bekas duka tersebut. Biar pun parut seakan menutup, getarnya masih terasa. Rasailah titipanku.

Saudara-saudaraku

kau  yang dilepaskan dari bencana
dan ribuan badai yang menggila
ayuh! kita perbarui keikhlasan
dari segenap kedukaan
mereka yang telah pergi
antarkanlah keredaan
dan kita adalah penerus sunah
juga memikul amanah

( Banda Aceh, 20 Desember 2010 )

Aceh yang runtuh telah dibangunkan kembali. Uluee Uhulue yang terdapat Masjid Baiturahim yanga terselamat, hanya sebatang pokok asam yang tinggal, daripada puluhan lain yang dibadai, jambatan patah serta runtuhan dinding-dinding rumah dan remuk jiwa, kembali meramah. Namun semua itu bukan petanda sembuh sebuah luka, masih jauh dari rasa gembira, terutama pada mereka yang menjadi saksi mata dan mangsa bencana.

Ziarah Ombak ( Lapena, 2005 ) adalah kumpulan 110 buah puiisi daripada penyair yang menjadi saksi mata bencana. Ditambah dengan puisi dari tetangga dan para simpatis. Kumpulan yang ditata kemas sepenuhnya oleh De Kemalawati dan Sulaiman Tripa, cukup memberi trauma yang tidak sedikit kepada pembaca malah pelakunya. Antara penyair yang kandas jiwa kerana teragut keluarganya ialah Harun Al-Rasyid. Harun kehilangan isteri dan dua orang anak. Lihatlah pengaduannya.

...
Wahai Tuhan Yang Maha Kudus
Aku bertanya pada-Mu
Mengapa kasih-Mu Kau cabut
Pada pagi ahad  26 Desember 2004
Kala surya melambai dalam damai
Kala bayiku sedang bercanda dengan ibunya
Kala putri kecilku sedang sarapan di beranda
Mengapa gempa dan tsunami
Menenggelamkan tangis beribu bayi lagi
Menggoyang jantung puluhan ribu anak-anak
Menyimakan ratapan pilu puluhan ribu ibu hamil
Dan menyusu, serta puluhan ribu orang tua renta

Harun amat terdera dengan tragedi tsunami. Ketidakberadaan beliau disamping mangsa adalah kekeliruannya. Trauma yang begitu dahsyat hanya ditutur dengan suara redha. Seperti kata  Ahmadun Yosi Herfanda sang pengantar, bahawa puisi adalah saksi mata bencana massal ini. Suara yang begitu menusuk semacam mata rencong. Seperti juga penyair Azhari yang kehilangan ayah dan ibunya.

Ibuku, Abah dan Dik Nong
setelah bala aku pulang ingin melihat
kalian dan kampung
....
seperti kalian, kampung kita ternyata sudah tiada
berubah menjadi lautan raya

Tsunami adalah tragedi massa, ulah yang perlu difikir dan direnungkan. Tsunami selain bencana adalah rahmat yang tidak sedikit, membuka Aceh kepada sedikit kelegaan. Sebelumnya, Aceh adalah dera, adalah sebuah fatamorgana. Tuhan merencana seadanya, seperti bencana-bencana terdahulu yang diakui punya hikmah tertentu. Apa tidaknya, Aceh yang tertutup, tiba-tiba terbuka luas kepada dunia.  Semua kerja dapat dirampongkan dengan tangan Allah. Tangan raksasa berupa tsunami telah menghulur milyar dollar dari luar hingga dapat membangun semula Aceh yang remuk dalam masa terdekat. Kini setelah 6 tahun berlalu, Aceh mengembang laju. Aceh mula tersenyum lewat malamnya. Bayangkan 6 tahun sebelum tsunami, petang dihiasi dengan rentetan bunyi senapan hingga ke dini dan malam umpama neraka yang ngeri. Kini malam di Aceh tumbuh subur dengan dhukupi yang merias dan membragas. Penyair tentu akan menandai semua ini. Namun tsunami, tetap tsunami. Dihargai, dikenangi malah cukup diinsafi.

Penyair De Kemalawati menanggapi dengan Kita Tak Belajar Membaca Tanda-Tanda.

ketika kita terhuyung-hayang dalam goncangan panjang
ketika kita bersidekap rapat dengan bumi
ketika kita tak pernah tahu tanah rengkah
air laut surut berdepa-depa
ketika ia menghulurkan lidahnya ke angkasa
ikan-ikan menggelepar, pasir-pasir mengering
rumput laut tak sembunyi di balik karang
lalu sebagian kita berhamburan ke tengah pasir
silau oleh kerdip sisik ikan

Begitu De Kemalawati menanggapi tanda-tanda. Allah tidak sekejam itu mendatangkan bencana. Diberi tanda-tanda untuk mereka yang berfikir. Diberinya bayangan untuk kita membuat persiapan. Tapi apakah manusia berfikir? Ini yang ditanyai oleh De Kemalawati. Namun bagi L.K. Ara yang bermukim di Pangkalpinang menyatakan,

setelah gempa
setelah gelombang tsunami
tinggal puing
inilah saat hening
sujud kepada-Mu

Sebesar manakah nilai fikir manusia? Tsunami menghantar bicara yang tersembunyi. Bagi penyair, alam adalah tafsir. Segala-gala telah terlukis di atasnya. Seperti yang dinyatakan oleh Rendra,

Di mana kamu De'Na?
Ketika tsunami melanda rumahmu
apakah kamu lagi bersenam pagi
dan ibumu yang janda
lagi membersihkan kamar mandi?

Atau seperti kata  Siti Zainon Ismail, Kenapa Kau Datang Dalam Duka Kami

Sungguh ini bukan lagi
bumi kecintaan seperti dicatat marco
ombak biru berkilau nilam
dikejar peraih cinta
layar terkembang di main ombak
kasih sayang...
tapi anda datang
kala kami semakin tipis kepercayaan
hati digalau segala pancaroba
sesaat memang kami ingin saja
pintah alam sana
seperti diangkat entah oleh siapa
rohpun berloncatan meninggalkan
jasad kebanggaan
sekarang silakan
apakah yang kau cari
di celah-celah bau
debu sengsara janji impi

Terasa semuanya terkesima dalam gempa. Manusia ini fikirannya tidak menjalar ke daerah-daerah jauh hingga bisa menafsir sesuatu di alam yang terkesamping. Seperti kata De Kemalawati, kenapakah kita tidak membaca tanda-tanda. Manusia sebenarnya lihai dan hanya terpana ketika semua sudah sampai berupa lukisan realisme. Manusia hanya bisa membaca bahasa yang telah diterjemahkan Allah rupa dan bentuknya. Namun, manusia juga akur dengan kekerdilan diri. Seperti Maskirbi sebelum dilantakluluh tsunami sangat berbagi. Ini antarannya Mas Anton Kieting, Sajak Kepada Penyair ( bagi Maskirbi )

Apakah kita harus mendengar suara azan
agar dapat kabarkan kesaksian
kerana suara lantangnya tak lagi terdengar
berganti gemuruh badai
kerasnya zikirmu kerana kami kini terbaring kaku
entah di mana tak ada lagi alamat
kini kita tak dapat lagi menikmati sebuah pentas
yang menjadi altar untuk memberi kesaksian
bacakan padaku sebuah eligi Baitur rahman
kerana rumah Tuhan yang maha suci

Maskirbi antara penyair yang sering menyuarakan kehadiran Tuhan. Desah nafasnya selalu bergetar oleh kerosakan dan kebrandelan manusia. Namun Allah menghilangkan suara Maskirbi sebagai saksi. Allah menjemputnya bagi menyatakan apa yang dikatakan adalah benar dan selalu nyata bagi insan yang selalu menyeru dan mengingatinya. Maskirbi pilihan Allah dari sejumlah penyair lain. Maskirbi aman di sisinya, insya Allah..

Esok 26 Desember kali yang ke 6 bagi tsunami. Bagi mereka yang mengalami tragedi secara terus, ini adalah empati yang sangat diharukan. Bagi simpatis yang mengimbau dari jauh, juga masanya berpantisan secara jauh dengan berhulur doa. Bagi saya, ziarah tsunami ini amat berarti. Sangat memberi harga yang luarbiasa. Kepada saksi mata dan benturan jiwa, saya ucapkan takziah. Mereka terkorban untuk kita menikmati sedikit kecerahan. Begitu Allah mengantarkan kebahagiaannya dengan sedikit sengsaraan di dalamnya.


Senin, 06 Desember 2010

MENYOROT SURAT DARI NEGERI TAK BERTUAN DARI SUDUT KAJIAN TEKSTUAL PASCA-MODENISME



Pengarang atau penyair adalah satu personaliti yang mampu mentranformasi idea dan pengalaman dengan mekanisme tertentu hingga ia dapat dijelmakan kepada sesuatu yang bersifat puisi dan literaris. Penyair membentuk pengalamannya yang tersembunyi di balik kata-kata untuk membina teks sendiri. Dan peneliti-peneliti pasca-modenisme seperti Lyotard, Faucault dan Bernes menyatakan, penyair mempunyai keberanian dan kekuasaan untuk menzahirkan keindahan. Melalui kajian inilah, saya cuba melihat Surat Dari Negeri Tak Bertuan sebagai satu pendekatan intelektual, intertektualiti dan penafsirannya dalam hidup.

Surat Dari Negeri Tak Bertuan ( Lapena, 2006 ) merupakan koleksi 89 buah puisi De Kemalawati. Puisi yang ditangani dalam jangka masa 18 tahun ( 1987-2005 ) adalah renungannya terhadap ruang dan waktu. Dalam tempoh masa yang begitu panjang, De nampaknya kekal dalam pengucapan yang dapat dikatakan sebagai identitinya. Bahasa kewanitaannya lembut, tidak terlalu hyperbola bagi mengangkat kecintaannya. Lihatlah De dalam puisi ini.

barangkali terlanjur kukabarkan
tentang kesetiaan
sedang penantian terlanjur panjang
dan ketika timbul kesadaran
hati kita tak utuh lagi

barangkali darah yang yang kering lebih banyak bicara
kita sama-sama luka
walau saling berpelukan
kurasakan tak ada lagi kedamaian

barangkali ada cinta yang lebih
tak bisa kutawarkan padamu
kuharap suatu saat nanti
kau pun tahu tentang arti kesakitan

( Tentang Cinta Yang Lebih, hal. 104 )

Ada unsur homologi dalam puisi Tentang Cinta Yang Lebih ini mengasosiasi diri penyar dengan sejarah yang memercikkan rasa sinis dan sarkastik manusia. Walau pun dikabarkan tentang kesetiaan pada penantian yang begitu panjang, darah yang kering adalah lambang keonaran. Apakah harus ada darah tatkala satu keluhuran cinta ( yang lebih ) yang bisa ditawarkan. Lihatlah kontradiksi ini.

walau pun saling berpelukan
kurasakan tak lagi ada kedamaian

Cara De melihat persoalan ideologi lebih kepada pemandangan femenisme. Dia jujur, walau ada sedikit sakral tetapi hukumannya lembut.

Barangkali begitulah cara De memotret. Bahasa De dikatogarikan stail-ironik yang cerdik yang bisa mengajak manusia berfikir. Dalam Potret ( hal. 54 ) De menulis,

diberi kami waktu menapak pemberian
antara burung dan angin
sayap semakin rapuh
ada kesenjangan merakit cahaya
entah potret siapa tersaji begitu tiba-tiba
imajinasi bersanding menara gading
larut menjadi debu
sikap
malang atau tak peduli
begitu kaku di mata

Teori fenomanologi Edmund Husserl menyatakan bahawa pengalaman adalah fenomina yang mencorakkan prapanosia pengarang. Ini dapat dilihat dari baris, diberi kami waktu menapak pemberian / antara burung dan angin / sayang semakin rapuh. Penyair telah diberikan waktu yang mencukupi untuk menafsir sesuatu yang kukuh ( burung dan angin ) namun keupayaan mengaplitasi begitu rapuh. Ini diakui dengan frasa, sayang semakin rapuh. Sebagai orang pertama melihat longgokan puisi dalam satu bekas ( iaitu kumpulan puisi ) Robin Lim mengomentar secara jujur, " Barangkali saya beruntung, soalnya puisi-puisi ini selayaknya dibaca seperti itu, ibarat orang menangis tersedu-sedu. Ini satu pencerahan bagi saya. Saya harus mengikut sarana Robin untuk membaca puisi-puisinya secara menangis tersedu-sedu. Mengapa? Tentu Robin sebagai penganalisa pertama, membaca keseluruhan  puisi tanpa tersisa. Katanya, wanita ini serta bangsanya tahu arti penderitaan. Mereka dikhianati oleh bangsanya, oleh laut yang selama ini menghidupi mereka turun menurun.

Saya jadi terkesima. Memang tidak semua puisi De saya soroti secara total. Tapi Robin telah membuka nuansa saya. Barangkali Ombak ( hal. 2 ) bisa memaknakan tanggapan Robin. 

seandainya kau pergi jauh
tak kembali
akan kulayari kekecewaanku
agar sesiapapun kau merasakan
berbagai makna di kakiku
yang terus telanjang


Ya, De dan ombak adalah dua juzuk yang sering berkawan dan memaknakan kehidupan. Ombak kala datang melambai, ia akan memesrai kaki yang telanjang. Kaki yang tahu benar dengan resam ombak. Kembalinya ombak ke tengah lautan, adalah pamitan kepada pengalaman dan penyair akan berasa kehilangan dan kekecewaan. Untuk lebih besar lagi maknanya, ombak adalah pengalaman hidup. Pengalaman yang membasahkan manusia dengan segala keberanian dan kehamilan perasaan.

Lihatlah bagaimana De menyelami ombak ( gelombang ) dalam Sajak Abadi ( hal. 34 )

hidup berpilin-pilin dalam gelombang
sajak-sajak di kaki pertokoan
terjerat benang kusut
merimba haru kicauan burung dara

warna air matanya mampu mengalir ke dermaga
pelarian adalah sajak abadi
setelah asa semakin jauh

Nada kecewa dalam Sajak Abadi  mengajak kita merenung akan kekuatan massa merempuh gelombang yang berurut-urutan. " Hidup bagai berpiin-pilin dalam gelombang / sajak-sajak di kaki pertokoan / terpaut benang kusut / menimba haru kicauan burung dara " Ini adalah suara penyair pribadi. Sebagai watan tidak menghirau rempuhan gelombang menghakis kekuatan nalurinya. 

Dalam sajak panjang, Surat Dari Negeri Tak Bertuan ( hal. 84 ), De mengungkapkan,

sabahabatku, inilah suaraku dari negeri tak bertuan
sebenarnya telah sangat lama berita ini
ingin kukabarkan tetapi
seperti kau juga aku selalu terjaga
setiap malam untuk menenangkan diri
bahwa kuku panjang yang merobek-robek
hikayat negeri kita terlalu keras mencengkeram bumi
hingga kini mengalirkan airmata darah

aku jadi malu pada diriku
sungguh telah membiarkan ceita luka
terkubur dalam batinku tanpa menceritakan padamu
tapi kuyakin kau juga telah banyak tahu
tentang tanah dan airku yang
kini berwarna merah

dikeranakan tabir telah terbuka
tak ada yang harus kusembunyikan
ingin kubertanya padamu tentang wajah kami
apakah benar berwajah srigala
hingga pemburu beradu cepat
mengangkat senjata

kalau benar katamu
apakah kami harus [unah
bersimbah darah
tolonglah aku
jawablah pertanyaanku
kerana kamulah yang masih
bisa kuajak bicara
sejak mereka memalingkan muka

Ideologisme di kalangan penyair wanita bukanlah asing. De tampak mengisi ideologisme ini dengan caranya sendiri. Femenisme selalu memberi tentang ideologisme di kalangan penyair wanita bersuara lelaki. Seperti kata Robin, bacalah puisi De dengan menangis untuk mendapat kesan abadinya. Ternyata balada panjang Nonggroe yang ditulisnya, berkeliwer bata-bata yang mencengkam dalam jiwanya. Keberanian itu iltizam yang mewarnai pribadi. De seolah terbenam dalam sangkar yang sering parah oleh pemberontakan. Sangkar ( jasad ) De sentiasa ampuh, tetapi jiwanya remuk dan mengalir darah kecewa. Kerana katanya, kerana kamulah yang masih / bisa kuajak bicara / sejak mereka memalingkan muka.

Ini jatah tanah Nonggroe. Berkeliwer sejuta mata rencong dari tuan tak terkendala. George Lukacs menyatakan, penyair akan sentiasa tersuntik semangat proresif dan optimistiknya berhadapan dengan kendala yang membelenggu dirinya. Dan De ternyata membenarkan ungkapan itu.

89 buah sajak dalam jangka masa 18 tahun penulisan De adalah karya pilihan yang cukup baik. De dengan suaranya yang khas telah menandakan kehadirannya dalam diam. Lihatlah Diam ( hal. 124 ) bagi memaknakan dirinya.

di suatu halte yang suram
aku mencari makna yang menggantung
pada kelabu burung pungguk
menandai sarangnya

Ya, De telah menandai sarang " kepenyairannya ' dengan Surat Dari Negeri Tak Bertuan. Di kalangan penyair wanita, De Kemalawati berada di sisi yang tersendiri di antara Diah Hadaning, Helvi Tiara Rosa, Abidah El Khaliqie dan lain-lain. De dalam piliihan bahasanya yang bening, dilingkar oleh patukan revolusi dan simpang siur, mencipta satu kedudukan yang luar biasa. Apatah lagi pengendali Pendidikan Metametika yang berkecimpong dalam kerangka bahasa, penampilan De Kemalawati boleh dianggap diluarbiasaan. Tanah Nonggroe telah banyak melahirkan keluarbiasaannya yang menggugah naluri kita. De salah satunya keluarbiasaan itu.

07 Desember 2010 jam 1:28

*Djazlam Zainal, kritikus sastra Malaysia, tinggal di Melaka