Header


Jumat, 10 April 2015

Lantaran Petir

D Kemalawati

Sudah sebulan lebih keadaan cuaca di Banda Aceh begitu saja berubah. Siang yang sangat terik tiba-tiba menjadi gelap. Mendung hitam dan tebal seakan di arak dengan cepat hingga tak sempat menggantung lama. Hujan deras dan petir seakan se irama bernyanyi bersama.  Tetapi sesaat ke depan, matahari kembali menerangi kota. Pancaran sinarnya seakan tak pernah terhalang mendung. Hanya genangan air di beberapa lubang dan daun-daun basah serta orang-orang yang berkendaraan motor roda dua yang masih memakai jas hujan yang menyatakan bahwa sesaat lalu hujan telah turun begitu deras.

Saya sedang menerima telpon dari seorang teman saat hujan turun dan petir menggelegar. Kami sepakat untuk menghentikan pembicaraan. Bagaimana pun kami tak mau mengambil resiko terkena dampak listrik dari alat komunikasi yang kami gunakan saat lintasan kilat mungkin melewati kami. Ya, lantaran petir itulah saya kembali ke ruang tamu dan meneruskan membaca buku Pemimpin Cinta. Buku yang ditulis berdasarkan pengalaman nyata oleh penulisnya, mas Edi Sutarto di jaringan sekolah Athirah, Sulawesi Selatan ini telah beberapa hari saya baca. Tidak hanya di rumah seperti saat hujan dan petir ini saya membacanya, saya juga membawanya ke sekolah. Mana tahu dalam kepadatan jam mengajar saya masih ada waktu untuk menyimak bagaimana beliau selaku Direktur yang membawahi beberapa sekolah mulai dari Taman Kanak-Kanak (TK) sampai dengan Sekolah Menengah Atas itu mengelola sekolah, guru, dan siswa dengan pendekatan cinta.

Pendekatan Cinta, hmm... Inikah yang membuat saya tertarik membacanya?

Sudah lama saya tak tertarik membaca buku setelah saya temukan nikmatnya membaca Al Quran dan kitab-kitab tasawuf. Terakhir buku yang saya baca dengan serius adalah buku yang ditulis oleh Prof Hiromi Shinya, MD, yang berjudul The Miracle of Enzyme. Hiromi Shinya adalah Guru Besar kedokteran Albert Einstein College of Medicine, AS. Dia merupakan ahli endoskopi gastrointestinal yang terkemuka di Amerika dan Jepang yang telah memeriksa lambung dan usus beratus-ratus ribu orang. Hiromi Shinya mengaku, dialah orang  pertama di dunia yang berhasil menyingkirkan polip dengan menggunakan kolonoskop tanpa harus melakukan irisan pada dinding perut manusia.     

Saya seperti diantar Allah ke rumah cucu sepupu ibu saya yang usianya tak jauh beda dengan saya Oktober tahun lalu. Dia seorang perempuan cantik yang berjuang hidup dan pulih setelah tubuhnya remuk redam dihantam  tsunami yang demikian teruk melanda kota kelahiran kami, Meulaboh. Tiga tahun kemudian dia diserang penyakit stroke dan keluar masuk rumah sakit. Dia tak bisa melaksanakan tugasnya sebagai pegawai negeri. Beruntung suaminya seorang yang sangat baik. Dia merawat istrinya dengan penuh cinta hingga tak disadarinya bahwa mereka telah melewati masa sulit hampir tujuh tahun lamanya. Masa-masa dimana sang suami memandikan istrinya, membedaki seluruh tubuh kurus istrinya, memakaikan pampers hingga mendorongnya ke ruang cahaya sebelum ia berangkat kerja. Saya tak sempat menyaksikan saat-saat sulit mereka. Seorang teman guru yang merupakan sespupu suaminya menceritakan semua itu beberapa hari sebelum aku diantar oleh Yang Maha Pengasih bertemu dengan cucu sepupu ibu saya itu.

Kunjungan menjelang senja itu membuahkan banyak cerita. Rasa kangen yang meluap kami hempaskan dalam rangkulan lama. Kami berpelukan seperti kanak-kanak. Bagaimana tidak, saya datang dengan bayangan dia terbaring di kursi malas dengan tubuh kaku dan pandangan hampa. Tetapi yang saya temukan sosok yang keluar tertatih ke ruang tamu dengan muka merah merona dan sorot mata indah. Sepintas tak saya temukan cerita teman saya itu kecuali pada jalannya yang tertatih. Dan seperti air bah, cerita demi cerita mengalir. Dia begitu ceria berbagi kisah sakit dan penyembuhannya. Tak ada mistik, katanya berkali-kali. Sakit itu berasal dari pola makan. Dan seperti dokter ahli dia menguraikan kesalahan-kesalahan yang kita lakukan dalam pola makan yang menimbulkan banyak penyakit di kemudian hari. di sanalah pertama kali saya mengenal keajaiban enzim dan buku The Miracle of Enzim. Selama melakukan diet enzim, katanya, dia jauh ebih sehat tak tidak lagi mengkonsumsi obat-obatan. Lilik benar-benar sembuh. Akunya.

Buku yang berkisah tentang keajaiban enzim itulah buku paling akhir saya baca dengan serius. Saya melaksanakan apa yang dianjurkan Prof Hiromi Shinya dengan sepenuh hati. Dan beberapa penyakit yang sekian lama bersarang di tubuh saya telah pergi entah kemana. Berat badan saya kembali standar. Alhamdulillah.

Sekarang saya kembali ke buku Pemimpin Cinta Edi Sutarto. Tapi malam telah larut. Dari kamar anak perempuan saya masih terdengar suara. Ada dua temannya datang menginap. Mereka masih belajar padahal sudah dini hari. Padahal mereka juga tahu UN kali ini tidak menjadi penentu kelulusan. Tetapi mereka sungguh sangat takut jika nilai UN mereka rendah. Apalagi anak perempuan saya yang sudah diterima di President University selaku penerima beasiswa penuh. Akan sangat malu kalau nilai UN rendah, Ma. Katanya siang tadi. Mengingat beberapa jam ke depan mereka harus siap-siap ke sekolah, baiklah, saya padai menulis tentang buku Pemimpin Cinta. Saya akan segera beranjak ke peraduan. Insyaallah akan diteruskan bila ada kesempatan. Salam Cinta dini hari. D Kemalawati.  



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar