Header


Sabtu, 18 April 2015

Sedekah

D Kemalawati

Tak ada yang lebih aku utamakan setelah selesai menyiapkan sarapan pagi selain segera membuka pintu depan, mengambil sapu lidi dan mulai menyisir daun-daun kuning yang ringan dan kering. Meski kerimbunan pohon seri membuat halamanku teduh, tak ayal bila tak ada waktu menyapu halaman rasa kesal atas keberadaan pohon seri itu membuncah juga di dada. Bagaimana pun penyumbang besar sampah di drpan rumah kami adalah daun seri sedangkan pohon mangga yang buahnya selalu menggantung indah menjuntai hanya menyumbang beberapa daun luruh, yang kadang cukup dipungut beberapa saat tanpa harus menggunakan sapu lidi.

Pagi kemarin agak terlambat aku ke halaman. Terlalu banyak waktu yang kugunakan di meja makan bersama adik iparku. Dia sedang bermasalah dengan suaminya. Meski aku tak berminat diberitahu lebih banyak apa yang dalami dan dirasakannya, tapi untuk mengabaikan dia tentu tak akan kulakukan. Aku berusaha menjadi pendengar yang baik, meski pikiranku tak bersamanya.

Keterlambatan ke halaman akan membuat urutan kerjaku kacau. Waktu dhuhaku pasti bergeser dan itu membuaku tak nyaman. Tapi bagaimana pun aku selalu berusaha berdamai dengan jadwalku sendiri. Aku tetap harus menyapu halaman meski matahari sudah meninggi. Udara pagi selepas hujan begitu segar. Daun-daun berwarna hijau cerah. Tanah basah membuat nyaman mengayun gagang sapu. Aku tak khawatir debu berterbangan membuat mata perih. Tak ada suara lain kecuali derak sapu yang menyatukan daun-daun. Sesekali beo tetangga mengucap salam" salamualaikum... nek.. nenek

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar