Header


Kamis, 02 Desember 2010

TRAGEDI ACEH DALAM KARYA PUISI PEREMPUAN PENYAIR ACEH

Oleh L. K. Ara

             Tragedi kemanusiaan di Aceh telah mendorong para seniman menggoreskan penanya untuk melahirkan karya yang abadi. Para penyair Taufiq Ismail, Rendra, D. Zawawi Imron, Hamid Jabbar, Danarto, Ikranegara, -untuk menyebut beberapa nama- telah melahirkan puisi yang menyentuh. Pengarang cerpen Hamsad Rangkuti, Motinggo Busye, Helvy Tiana Rosa telah menelorkan cerpen bertema tragedi Aceh. Pengarang drama Ratno Sarumpaet telah pula menciptakan LIA sebuah naskah lakon yang sungguh pekat mengisahkan tragedi kamanusiaan di Aceh.

            Beberapa perempuan penyair telah pula tergerak hatinya untuk melukiskan tragedi kemanusiaan di Aceh dalam karya puisi. Mereka adalah D. Kemalawati dan Rosni Idham. Selanjutnya klik di sini

MENYULAM BAYANG PEMBUNUH AYAH


Cerpen: D Kemalawati
Seperti rencanaku pagi tadi, sekarang  akan kulepaskan bongkahan  ini.  Bongkahan yang kupanggul laksana bayi telah membuatku semakin bungkuk dan terpuruk. Aku tak bisa tengadah menatap langit biru, tak juga bisa menghitung bintang besar diantara banyak bintang kecil di angkasa. Ingin sekali aku menatap bulan sabit lalu melukisnya menjadi senyum dan kukirim  padamu. Tapi  itu tak pernah kulakukan. Seterusnya Klik disini



LAPENA TERBITKAN BUKU ANTOLOGI PUISI 3 DI HATI

Pengantar Penerbit

Buku ini memiliki nilai historis yang penting. Saat penyair Diah Hadaning, Dimas Arika Mihardja, dan D. Kemalawati berjalan beriring dalam wisata budaya sebagai rangkaian acara Temu Sastrawan Indonesia III di Tanjungpinang. Secara spontan Dimas Arika Mihardja menyebut 3D (maksudnya penyair yang namanya berawalan huruf “D”, tiga dimensi). Tiga penyair yang berawalan huruf “D” (Diah Hadaning, Dimas Arika Mihardja, dan D.  Kemalawati) lantas bersepakat untuk mengabadikan momentum historis itu dengan penerbitan buku antologi puisi ini.Selanjuynya klik di sini




PERBANDINGAN KARYA PENYAIR D KEMALAWATI (ACEH) DENGAN ZEAN KASTURI (MALAYSIA) OLEH DJAZLAM ZAINAL

CAHAYA, MASUKLAH KE DALAM SAJAKKU & SUATU MALAM KAUBANGUN MENANGKAP SEPI
oleh Djazlam Zainal pada 02 Juli 2010 jam 23:17

De Kemalawati dan Zaen Kasturi merupakan penyair generasi muda dua negara serumpun yang mempunyai banyak persamaan pemikiran, wawasan dan sudut pandangan ketuhanan. De Kemalawati dilahirkan pada tahun 1965, di Meulaboh, Aceh Barat, Sumatra, Indonesia sementara Zaen Kasturi dilahirkan pada 1964, di Kuala Sungai Baru, Melaka, Malaysia. De Kemalawati berkelulusan Universitas Syiah Kuala Banda Acheh dan Zaen pula berkelulusan Universiti Malaya, Kuala Lumpur. Dalam ruang yang hampir sama, kedua-dua mereka menjadi penyuluh kepada kelasterian dunia puisi Indonesia-Malaysia. Sama-sama menyuarakan keanggunan sosio budaya yang diikat dengan tabaruk dan takwa. Justeru, amat bersamaan mereka berdua dalam menghayati dunia puisi mutakhir ke dua negara ini. Selanjutnya klik di sini

Ulasan Novel Seulusoh karya D Kemalawati oleh Djazlam Zainal

SEULUSOH - TIMBAL BALIK HALUSINASI DALAM ETIKA UNIVERSAL
oleh Djazlam Zainal pada 16 Oktober 2010 jam 23:35

Seulusoh ( Lapena, Meret 2006 ) karya De Kemalawati penulis/penyair kelahiran Aceh pada tahun 1965.  Seorang karyawan yang menekuni puisi, esei, opini, cerpen dan novel sebagai genre yang diungguli dan dirapati sejak di sekolah dasar. Sebagai seorang pembaca sekaligus kritikus, saya membaca Seulusoh penuh hati-hati, melihat seluruh perekaman peristiwa yang berlaku.Selanjutnya klik di sini

SERONG

Cerpen D Kemalawati
“Dah Jumatan?”

kata-kata itu terpampang di layar monitor laptopku. Tak tahu kenapa begitu melihat namanya ada di daftar teman yang online jemariku langsung bergerak, menarikan tuts-tuts keybort hingga tertera kalimat singkat itu. Tak menunggu lama mataku sudah melihat deretan huruf muncul di bawahnya.
Seterusnya Klik disini

LELAKI JELAGA

Cerpen D Kemalawati

“ Apa yang kau cari Dahaga,” ucapnya dalam lepuh duka lara.
“ Sesuatu yang tak mungkin kuceritakan padamu, Telaga.”
Tak ada tatapan mata yang bisa diterka. Gesekan sol sepatu tua dengan pasir bercampur kerikil menandakan tubuh lunglai itu sudah menjauh. Dahaga mengharungi padang riuh penuh badai. Memanggul bungkusan perih di pundaknya.Selanjutnya Klik disini