Header


Jumat, 07 Januari 2011

SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG DARI HAMZAH FANSURI SAMPAI GENERASI TERKINI *


Maman S. Mahayana **

Membicarakan perjalanan sastra Aceh dengan rentang waktu yang begitu panjang (dari Hamzah Fansuri sampai Generasi Terkini) adalah tugas mahaberat yang keseluruhan perjalanannya mustahil dapat diungkapkan dalam beberapa halaman saja. Oleh karena itu, pembicaraan ini sesungguhnya sekadar gambaran umum, bagaimana sastra Aceh bergulir, menggelinding dan kemudian menjadi salah satu bagian penting yang tidak dapat dipisahkan dari lanskap kesusastraan Indonesia.
Dalam peta sastra Nusantara selepas pengaruh Hinduisme mulai memudar digantikan pengaruh Islam, Aceh tampil sebagai salah satu poros yang memancarkan pengaruhnya ke berbagai wilayah di Nusantara ini.1 Tradisi itu tentu saja tidak terlepas dari jejak yang telah ditanamkan Ratu Nur Ilah, Ratu Nahrasiyah, Laksamana Keumalahayati, Sultanah Tajul Alam Safiatuddin Syah, sampai Sultanah Nurul Alam Naqiatuddin Syah, Ratu Inayat Zakiatuddin Syah, Ratu Kamalat Zainatuddin Syah.2
Keagungan yang Ditenggelamkan
Pada masa itu, keharuman Aceh sebagai salah satu pusat pertumbuhan dan perkembangan intelektual telah merebak jauh melewati batas wilayah Nusantara. Ia lalu menjadi sihir bagi para intelektual mancanegara. Sejak itu, kesultanan Aceh seperti terus berkelanjutan mengibarkan panji-panji keagungannya.3
Reputasi kesultanan Aceh mulai surut ke belakang, ditandai dengan intrik Belanda dengan segala kepentingannya. Meski Traktat London (1824) yang membelah kerajaan Melayu–Lingga itu, tidak merugikan Aceh, karena di sana ada kesepakatan bahwa Inggris dan Belanda tidak boleh menyerang Aceh dan harus menghormati kedaulatannya, Belanda tokh merasa tak nyaman dengan kekuasaan kesultanan Aceh. Maka, serangkaian provokasi pun dilakukan untuk menggoda Aceh. Itulah salah satu alasan Belanda untuk membawa kembali Inggris membuat perjanjian baru, yang disebutnya dengan Traktat Sumatera (1871). Dalam traktat itu disebutkan bahwa Belanda bebas memperluas wilayah kekusaannya di seluruh Sumatera. Dengan alasan Aceh telah melanggar perjanjian tahun 1857,4 Belanda datang ke perairan Aceh dengan tiga kapal perang dan meminta penjelasan tentang terjadinya hubungan Aceh dan wakil negara asing (Amerika Serikat) di Singapura. Karena jawaban kesultanan Aceh tidak memuaskan pihak Belanda, lahirlah manifesto pemerintah Hindia Belanda yang berisi pernyataan perang dengan Aceh.5
Demikianlah, Aceh bagi Belanda adalah sejarah hitam keberadaan mereka di Nusantara. Sejarah keagungan kesultanan Aceh, para pujangganya, seperti Hamzah Fansuri, Abdul Rauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri, kekayaan budayanya, dan militansi ideologis rakyat Aceh dalam berhadapan dengan bangsa asing, adalah catatan panjang tentang kegagalan Belanda dalam coba menaklukkan Aceh.
Sebagai negara kecil dengan penduduk yang juga berjumlah kecil, politik pencitraan yang dilakukan Belanda penting artinya untuk mengukuhkan dan melegitimasi kekuasaan Belanda di tanah jajahan. Bersamaan dengan itu, dilakukan juga usaha-usaha stigmatisasi6 dan pembonsaian.7 Itulah yang terjadi dalam dunia pendidikan pada masa kolonial Belanda. Dalam konteks pembicaraan kesusastraan Indonesia, berdirinya Balai Pustaka8 dan perkembangan poros kesusastraan di Sumatera yang ditandai dengan tumbuhnya penerbitan di Padang, Bukittinggi, Tebingtinggi, dan Medan, menunjukkan usaha menafikan peranan kota lain, seperti Aceh dan terutama, Tanjungpinang, yang justru punya sejarah penerbitan. Dalam dunia pendidikan pun, nama-nama Abdullah bin Abdulkadir Munsyi dan Raja Ali Haji, jauh lebih populer dibandingkan Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel atau Nurrudin Ar-Raniri.
Sesungguhnya, ketiga nama itu—Hamzah Fansuri, Abdurrauf Singkel, Nurrudin Ar-Raniri—, meski secara ideologis Hamzah Fansuri berada di jalur yang berbeda dengan Abdurauf Singkel dan Nurrudin Ar-Raniri, telah menempatkan Aceh sebagai salah satu poros perkembangan tasawuf di Nusantara. Mengingat pemikiran-pemikiran tasawuf itu diekspresikan melalui syair dengan bahasa Melayu sebagai mediumnya, maka dari Aceh pula –di samping Riau—Lingga—kesusastraan Melayu memulai perjalanannya. Dalam konteks itu, Aceh sesungguhnya telah memberi sumbangan penting bagi pergulatan pemikiran Islam yang kemudian mempengaruhi perkembangan Islam di Nusantara. Di sanalah tempat Hamzah Fansuri berdiri sebagai tokoh pembaharu spiritualisme Islam. Lewat karya-karyanya yang simbolik dan puitis Hamzah Fansuri berhasil membuat tonggak sendiri bagi kepenyairan Melayu, dan belakangan, kepenyairan Indonesia.9
Itulah awal peperangan dengan pihak Belanda dan terus berlanjut seperti tiada berakhir. Bagi Belanda, berhadapan dengan Aceh laksana berhadapan dengan masyarakat yang tak pernah menyerah.10 Maka harus ditempuh cara lain yang tidak fisikal, yaitu menenggelamkan reputasi Aceh atau menciptakan stigma negatif atas apa pun yang berhubungan dengan Aceh. Meskipun pada zaman Balai Pustaka muncul nama H.M. Zainuddin yang menghasilkan novel Djeumpa Atjeh (Bunga Aceh, 1928) dan zaman Poedjangga Baroe nama Ali Hasjmy cukup menonjol sebagai penyair, selepas itu sastrawan Aceh seperti tenggelam dalam tidur panjang!

Masa Lalu yang Layu

Ketika tak ada musuh bersama yang bernama bangsa asing dan para founding fathers merumuskan sendiri bentuk negara dan pemerintahannya, konon, Aceh masih sempat memberi tanda mata berupa sebuah pesawat. Dan pemerintah tentu saja mengapresiasi penghormatan itu. Tetapi, pengakuan terhadap ketangguhan Laksamana Keumalahayati, cukuplah dengan pengabadian namanya pada Kapal Perang RI, Malahayati. Lalu selepas itu, minyak bumi dan kekayaan alam lainnya mengucur ke Jakarta. Aceh dibiarkan menjadi penonton pasif yang harus menerima begitu saja “belas kasihan” Jakarta. Mulailah muncul gumpalan pertanyaan yang lalu meneteskan benih luka yang barangkali masih dapat ditahan sambil berharap ada perbaikan.11
Tetapi mengapa heroisme dan patriotisme Aceh harus dicurigai sebagai keinginan untuk mendirikan sebuah negara (Islam)? Lalu dijalankanlah apa yang disebut Daerah Operasi Militer (DOM). Mengapa DOM harus terjadi di Aceh, wilayah yang warga puaknya sudah dikenal sejak lama mempunyai integritas, kesetiaan dan loyalitas terhadap Indonesia. Luka itu seperti makin lebar ketika tak ada usaha (dari pemerintah) untuk menuntaskan duduk perkara peristiwa hitam itu. Lalu muncul Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang tiba-tiba terjebak pada peristiwa saling membunuh dengan tentara dan polisi? Apa dan bagaimana sesungguhnya yang melatarbelakangi dan yang melatardepani peristiwa berdarah itu? Mengapa sesama saudara harus saling mengeluarkan darah? Sejarah keagungan Aceh, perdebatan intelektual tentang Islam, semangat patriotisme dan heroisme Teuka Umar dan pejuang Aceh lainnya, seketika seperti masa lalu yang beku. Aceh menjadi sebuah kawasan yang di sana, harga nyawa manusia tiada bermakna.
Sungai-sungai seketika juga berubah menjadi aliran yang membawa bau busuk entah mayat-mayat siapa.12 Tempat-tempat pengungsian menjadi pemandangan kesengsaraan orang-orang yang tak berdosa. Hidup bertetangga di tengah warga tiba-tiba berubah menjadi kegiatan saling mencuri nyawa. Aceh menjelma kengerian dengan desing peluru entah dari moncong senjata siapa, mengoyak dada saudara sendiri. Inikah Aceh yang telah mengajari Indonesia dengan patriotisme dan heroisme?13
Ketika warga Aceh dihinggapi tanda tanya, saat kata damai makin jauh dari bumi Serambi Mekah, seketika itulah bencana datang: tsunami! Di manakah Aceh sekarang?

Sihir Tsunami

Bagian ini akan membicarakan antologi puisi berjudul Ziarah Ombak (Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman).14 Ziarah Ombak adalah sebuah persaksian tentang bencana tsunami yang mahadahsyat itu. Ia seperti sebuah klimaks dari rentetan segala luka. Tsunami telah mencatatkan dirinya sebagai bencana paling dahsyat dari semua bencana apa pun yang terjadi di muka bumi pada abad ini. Dan pada saat tak ada lagi kata yang dapat melukiskan kemahadahsyatan musibah itu –yang dikatakan Anton Kieting, kehabisan kertas dan tinta untuk bercerita atau dalam pandangan Asa Gayo, tak ada lagi yang bisa berkata-kata/semua diam membisu/berdzikir dalam air mata atau juga seperti dikatakan Deddy Satria: kupahatkan tanpa kata-kata//—Aceh menjadi pusat simpatik dan empati segenap bangsa di dunia. Tsunami telah menyihir umat manusia dalam hamparan kedukaan yang meluas. Aceh menjadi sebuah ikon yang tiba-tiba saja merampas empati siapa pun. Ia seperti menjadi alat yang dapat mempersatukan berbagai perbedaan ras, suku, agama, politik, dan kultur. Ia serempak lebur dalam perasaan yang sama: duka umat sejagat!
Dalam konteks keindonesiaan, Aceh dan tsunami telah membukakan mata dan hati warga bangsa ini memasuki babak penyadaran, bahwa segala konflik berdarah dengan latar belakang berbagai kepentingannya, harus segera dihentikan. Tentara, polisi, GAM, guru, penyair, pegawai negeri, atau apa pun sesungguhnya sekadar label profesi. Ia melekat pada diri manusia Aceh, manusia Indonesia, yang hendak menjalankan hidup sebagai manusia bermartabat—berbudaya. Label itu sekadar alat mencari penghidupan dan menunjukkan tanggung jawabnya sebagai Manusia (dengan M besar). Lalu, mengapa pula label itu dimaknai sebagai sumber perbedaan yang kemudian berujung pada pertumpahan darah? Aceh, kini, bukan lagi milik aku atau engkau, kami atau mereka. Aceh adalah kita, dan kita bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan Aceh.15
Sebuah peristiwa absurd dan irasional. Ketika tanah Aceh dibanjiri darah penduduk tak berdosa, darah anggota GAM, tentara atau polisi, tiba-tiba semua menjadi kita selepas tsunami meninggalkan duka yang tak terperikan. Dalam sekejap, batas tegas antara aku dan engkau, kami dan mereka, serta-merta lebur menjadi kita. Inilah sebuah rekonsialiasi paling menakjubkan yang menghancurkan segala sekat perbedaan atas nama berbagai kepentingan. Semua tumpah dalam perasaan yang sama: duka Aceh adalah kita.16 Pertanyaannya kini: bagaimanakah model persaksian para penyair Aceh sendiri tentang tsunami itu sebagaimana yang terungkap dalam Ziarah Ombak? Bagaimana pula mereka menyikapi musibah itu dan merefleksikannya dalam puisi?

Tsunami: Sebuah Peringatan

Ziarah Ombak yang diawali tegur-sapa semangat penyadaran Helmi Hass dan kemudian Kata Pengantar Ahmadun Y. Herfanda, penyair, cerpenis, dan redaktur budaya harian Republika. Buku ini memuat 130 puisi karya 48 penyair. Dengan melakukan tiga pembagian, yaitu Ziarah (Bagian Satu), Makam (Bagian Dua) dan Membaca Tanda-Tanda (Bagian Tiga), editor –D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa—tampaknya hendak membuat tanggapan evaluatif atas musibah mahadahsyat itu.
Bagian Pertama bolehlah dimaknai sebagai sikap keprihatinan para penyair Aceh yang selamat dari prahara tsunami. Pada bagian ini ada 85 puisi karya 38 penyair Aceh. Mereka seperti bermaksud melakukan semacam ziarah kepada segenap korban, mewartakan persaksian, dan sekaligus menyatakan kedukaannya yang mendalam. Bagian Kedua yang bertajuk Makam memuat 26 puisi karya tiga penyair Aceh –Nurgani Asyik, Maskirbi, dan Mustiar AR—yang diyakini termasuk korban dari sekitar 200-an ribu korban lainnya. Ketiga penyair Aceh itu hingga kini tidak jelas di mana jasadnya. Jadi, tentulah karya ketiga penyair itu ditulis sebelum dating bencana dahsyat itu. Bagian Ketiga (Membaca Tanda-Tanda) memuat 19 puisi karya tujuh penyair Indonesia dan Malaysia –yang entah mengapa, biodatanya tak ada di sana. Bagian ketiga ini, bolehlah dipandang sebagai bentuk empati penyair di luar Aceh yang hendak berbagi duka atau pemberi semangat untuk tidak larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Bagian Ketiga itu, niscaya belum dapat dikatakan merepresentasikan tanggapan keseluruhan penyair Indonesia dan Malaysia, meskipun di sana disebutkan “sangat dekat dengan Aceh.” Editor tentu punya alasan sendiri atas pilihan itu yang duduk perkaranya sering jatuh pada masalah teknis. Dalam hal ini, sepatutnya kita memberi apresiasi atas usaha dan kerja keras editor buku ini. Terlepas dari persoalan teknis itu, mari kita coba menelusuri, bagaimana para penyair Aceh memandang, menempatkan, dan memaknai tragedi mahadahsyat itu.
Puisi karya Anton Kieting (“Sajak kepada Penyair”) dan Armiati Langsa (“Bangkitlah”) cenderung merupakan seruan kepada Aceh untuk mengubur tsunami sebagai catatan hitam dan menatap masa depan sebagai langkah yang sudah semestinya dijalankan. Meski begitu, ada hal menarik yang terungkap di sana. Pada “Sajak kepada Penyair” Kieting seolah-olah hendak bertegur-sapa dengan penyair Maskirbi yang menempatkan tugas kepenyairan sebagai bilal –sebuah profesi yang tak populis, jauh dari keuntungan materi, dianggap pekerjaan tak bermakna dan cenderung dipandang tak punya fungsi sosial. Bilal –pengumandang azan—memang dapat dilakukan sesiapa pun. Tetapi siapakah yang punya kesadaran bahwa tugas bilal adalah titik berangkat menuju kemenangan, menjauhkan kemungkaran, dan mendekatkan kebaikan? Maskirbi telah melakukan itu dan hendak dilanjutkan oleh si aku liris: Aku akan tetap menjadi penyair yang mengabarkan kesaksian/pada setiap perjanjian/Karena kau pinta aku menjadi bilal/Yang selalu mengabarkan setiap perjanjian// Jadi, di sana ada persaksian dan sekaligus juga perjanjian.
Bahwa kemudian tsunami datang dan menggerus segalanya sebagai pertanda, sang penyair melihatnya dari dua sisi. Pertama, sebagai musibah yang tak terperikan sehingga ia tak mampu mengungkapkannya dengan kata apa pun. Kedua, sebagai bagian yang tak terlepas dari masa lalu. Tsunami dipandang sebagai buah dari serangkaian kealpaan yang dilakukan entah oleh siapa pada masa lalu. Inilah yang dikatakan Sigmund Freud sebagai ketaksadaran traumatik.17 Kecemasan yang bersumber dari tindakan masa lalu: … buta mata hatinya/mencuri perut saudara-saudaranya/menzalimi anak yatim// Sebuah seruan introspektif untuk tidak melakukan kesalahan yang sama.
Cara pandang seperti itu juga ternyata tampak pada puisi Armiati Langsa yang melihat Aceh dalam tiga dimensi waktu: masa lalu, kini, masa depan. Maka, ia melihat tsunami sebagai peringatan dan sekaligus awal untuk memulai kebangkitan kembali keagungan Aceh. Ketika ranting cabang dan pohonnya dicabik peringatan/Allah yang Maha Punya…/Pemilik tangan pengatur jagat raya// Jadi, bagi Armiati Langsa, tsunami sebagai representasi tangan Tuhan, agar bangsanya tak lalai menjalankan kewajibannya sebagai manusia. Kelalaian itulah yang sesungguhnya “telah mengundang bencana.”
Begitulah Langsa melihat tsunami tak berdiri sendiri. Ia menjadi bagian masa lalu yang penuh kelalaian: hura-hura, pesta pora, gelimang dosa, narkoba, dan syahwat yang secara metaforis dikatakannya sebagai paha yang tak lebih mahal dari kaki rusa// Maka, tak ada pilihan lain bagi rakyat Aceh, kecuali bangkit membangun kembali Aceh Raya, sambil bertaubat, bertasbih, dan berdoa. Atau, bagi Rianda Asriani: … bertafakur/ mengaca dari segala dosa, dengan kaca mata batin yang/bersih//. Ajakan Asriani tentu tidak datang secara serta-merta. Ia juga melihat masa lalu: Anak, anak yang dulu terlahir suci/yang dulu juga pernah diyatimkan oleh gemuruh senapan …. Bagaimanapun, bagi Asriani tsunami mesti dimaknai sebagai peringatan yang dikataknnya sebagai dian di kegelapan. Jadi, masih ada titik harapan untuk menatap masa depan. Biarlah masa lalu tentang tanah yang penuh sengketa/… yang diredam gelombang senjata/… dan penuh air mata (Syarifuddin Abe, “Air Tanah”) tetap sebagai masa lalu, dan tsunami menjadi batas tegas yang memisahkan masa lalu dan masa depan.
Pada diri penyair Mh Agam Fawirsa, tsunami telah meninggalkan pekuburan massal yang justru melengkapi kepedihan dan catatan kelam Tanah Rencong. Di depan makam massal ini/air mata memang telah terlalu banyak tumpah/membasuh jejak-jejak kaki yang terkubur/dalam catatan sejarah paling kelam/di bumi tanah rencong// Bagi Fawirsa, meski banyak orang menebarkan empatinya, ia masih belum yakin benar, bahwa catatan hitam itu akan berhenti di sana yang dikatakannya: bersama badai belum pasti berlalu/dalam derap langkah anak negeri ini/menyongsong masa depan yang tak pasti// (“Catatan Malam”). Sebuah masa lalu yang juga dirasakan Reza Idria (“Luruh”):
Belati menghujam berkali-kali
kami tak menangkis
kami tak menangis
maut terus-menerus mengerus takut
Di sini
Lelaki lama telah menyendiri
lalu anak dan perempuan pergi
lalu harapan
lalu ingatan
lalu mati
lalu sunyi
Apalagi yang masih tersisa selain sunyi? Sebuah pesimisme yang lahir dari serangkaian pengalaman traumatik yang tak gampang terkubur, meski tsunami telah menguburnya. Bagi Fawirsa (“Cerita Nenek kepada Cucunya”) yang masih mungkin dilakukan adalah membuat monumen peringatan bagi generasi yang akan datang tentang gejala tsunami dan tentang pengharapan terbesar dalam hidup di dunia ini: Tuhan. Ingatlah cucuku/Jangan lupa pesan dan cerita nenekmu ini/jangan lupa kepada Allah//
Begitulah, musibah dahsyat itu ternyata disikapi sebagai kepedihan yang tidak berdiri sendiri. Mohd. Harun Al-Rasyid, Reza Idria, Rianda Asriani, Sukran Daudy, Syarifuddin Abe, dan Win Ruhdi Bathin, misalnya, melihat tsunami sebagai sebuah klimaks dari rangkaian kepedihan yang dialami Aceh. Maka, kembali, di satu sisi, tsunami bagi korban hadir sebagai semacam katarsis, pelepasan dari kedukaan yang bertumpuk-tumpuk, dan di sisi yang lain, bagi mereka yang selamat, tsunami menambah kisah duka tentang sanak keluarga, tetangga, dan orang-orang tercinta. Jadi, dari satu titik harapan terkecil, sebagai bentuk apologia bagi para korban itu, tsunami laksana langkah berangkat menuju Tuhan. Para korban diyakini pula mencapai kebahagiaan di dunia sana. Bukankah mereka sudah sekian lama menahan sabar, menunggu Tuhan mencipratkan kebahagiaannya. Perhatikan kepedihan yang tak terucapkan di balik larik-larik berikut:
Tuhan
Sebagai ayah, aku hanya ingin bertanya
Karena kutahu anakku yang belia
Belum tahu apa-apa dengan kemunafikan
Belum kenal aneka kemusyrikan
Belum tahu mengenai bibit-bibit dendam
Apalagi dengan nafsu angkara murka (“Aku Bertanya Pada-Mu”)
Anakku, damailah ruhmu dalam kebahagiaan
Selamat berdandan di sisi Tuhan
Memilih gaun ulang tahun di almari
Dan merebahkan jasad di ranjang dambaan
Andai engkau telah pergi berkelana di taman Tuhan
Ayah ucapkan selamat jalan ananda tersayang
Jangan lagi berpaling ke belakang
Karena ayah telah ikhlaskan
Kita bertemu di yaumil mahsyar (“Kenangan dalam Keikhlasan”)
Sungguh, larik-larik tadi secara tekstual menyampaikan sebuah pertanyaan retoris: mengapa Tuhan membawa orang-orang tercinta yang tak berdosa (“Aku Bertanya Pada-Mu”) dan di bagian lain (“Kenangan dalam Keikhlasan”) menyampaikan pewartaan seorang ayah tentang anaknya. Tetapi di balik itu ada gugatan yang datang dari segumpal kepedihan yang tak tertahankan. Di sana, ada tangis yang kehabisan air mata. Inilah yang dalam konteks teologis disebut mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menakjubkan sekaligus juga menakutkan. Bukankah kuasa Tuhan itu penuh misteri yang berada di luar batas logika. Oleh karena itu, di balik ketidakpahaman tentang kuasa Tuhan, manusia sering merasa takjub dan sekaligus takut. Dalam tarik-menarik –takjub dan takut itu, kabar tentang “Kenangan dalam Keikhlasan” menegaskan sikap keberimanannya yang kukuh dan tak tergoyahkan. Hanya dengan kekuatan iman itulah si aku lirik (ayah) masih menyimpan setitik harapan dapat jumpa di Yaumil Mahsyar. Yang dalam bahasa Muhammad Irvan: menanti … di tempat yang dekat.
Demikian, sejumlah besar puisi karya penyair Aceh yang terhimpun dalam antologi ini memperlihatkan, betapa mereka tidak dapat begitu saja melupakan masa lalu, meski telah datang malapekata yang jauh lebih dahsyat: tsunami. Dalam hal ini, kebesaran masa lalu tentang dinamika intelektual Hamzah Fansuri atau Nurrudin, panji-panji keagungan para sultannya, dan heroisme Teuku Umar dan sederet panjang nama lainnya, seolah-olah tenggelam huru-hara konflik berdarah sesama saudara. Maka, tsunami disikapi sebagai peringatan atas sejumlah kelalaian itu.

Tsunami: Sebuah Persaksian

Selain sebagai “peringatan”, tsunami bagi sejumlah penyair Aceh lainnya –yang puisi-puisinya terhimpun dalam buku itu—merupakan peristiwa yang kedatangannya penuh dengan misteri yang dengan cara apapun tidak dapat dicari jawabannya. Jadi, di antara serangkaian pertanyaan yang justru malah menciptakan spiral pertanyaan, sejumlah penyair itu coba melakukan semacam persaksian. Maka, meski di sana-sini muncul hasrat melakukan refleksi evaluatif, mereka berusaha menangkap momentum tsunami sebagai bagian dari tanggung jawab sosialnya. Mereka berusaha merefleksikan persaksiannya, meski di belakang itu, ada sejumlah pertanyaan yang tak dapat mereka jawab: pertanyaan yang berada di luar batas logika; pertanyaan yang dapat digolongkan sebagai pertanyaan metarasional. Di situlah, puisi (: sastra) dapat ditempatkan sebagai potret sosial zamannya. Ia akan menjadi catatan sejarah yang sekaligus mengungkapkan berbagai akibatnya serta makna di balik peristiwa itu. Tentu saja sikap itu merupakan pilihan penyairnya sendiri. Bukankah setiap penyair (: sastrawan) kerap tidak dapat melepaskan dirinya dari fungsinya sebagai suara zaman?
Lihatlah sejumlah besar puisi Audi Nugraha, Arafat Nur, Azhari, D. Kemalawati, Deny Pasla, Deddy Satria, Dhe’na, Doel CP Allisah, Faridah, Fikar W. Eda, Fozan Santa, Jingga Gemilang, LK Ara, Mustafa Ismail, Mustika Ajerso, Nurdin F Joes, Ridwan Amran, Rosni Idham, Saifullah Thahir, Salman Yoga S. Sujiman A. Musa, Sukran Daudy, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa, Wina SW1, Win Ruhdi Bathin, Wiratmadinata, Yun Casalona.
Audi Nugraha dalam “Ada Apa Saat Itu” misalnya, menempatkan tsunami yang hanya dalam sesaat tiba-tiba menghancurkan segalanya. Ia seperti memotret hiruk-pikuk ketika gelombang tsunami bergulung-gulung di hadapan matanya. Ia takjub, sekaligus takut atas kedahsyatannya. Maka, tidak saat itu saja/manusia tetap ingat akan saat itu/ setiap saat pasti terjadi seperti saat itu/karena saat itu adalah milik-Nya//.
Dalam puisi “Jadi, Maka Jadilah” Audi Nugraha melihat tsunami sebagai fenomena alam yang di belakangnya, bisa saja tangan Tuhan ikut bermain. Ketika manusia melakukan eksploitasi dan eksplorasi alam, menguras kekayaannya tanpa mempertimbangkan ekosistem, dan membiarkan kerusakannya terjadi di mana-mana, ketika itulah alam tidak lagi diperlakukan sebagai “sahabat—saudara”. Alam menjadi sebuah kata benda yang dapat diperlakukan seenaknya. Maka, ketika ia memperlihatkan kekuasaan-Nya, segalanya sudah terlambat. Nugraha lalu mengajak kita melakukan perenungan: Sadarkah manusia bahwa alam bisa marah?/ Maka bersahabatlah dengan alam/karena manusia bukan makhluk bumi/kita diterima di alam ini karena titipan sementara dari Maha Pencipta//
Kesadaran manusia sebagai homo religius akan memperlihatkan intensitasnya ketika sesuatu yang mahadahsyat –kuasa alam—tiba-tiba datang serempak seperti hendak menyergapnya. Pada saat itulah manusia cenderung berlari atau mencari perlindungan pada sesuatu kuasa yang lain yang diyakini dapat menolongnya. Bagi umat beragama, sesuatu itu tidak lain adalah Tuhan. Inilah yang terjadi pada diri Asa Gayo yang diungkapkannya dalam puisinya yang berjudul “Baitur Rahman.” Maka ketika ia melihat kedahsyatan tsunami, secara instingtif ia serta-merta menempatkan Baitur Rahman sebagai “tempat berlindung.” Ya Rabbi/Izinkan kami bersujud/Di rumah-Mu yang suci/Izinkan/Izinkanlah kami yang hina ini/Bertaubat pada-Mu/Ya Rabbi//18 Hal itu pula yang dirasakan Arafat Nur (“Tsunami 3) yang menempatkan tsunami bukan sebagai “bencana” melainkan sebagai uluran tangan Tuhan berkat dzikir dan sembahyang, akan membawanya pada perjumpaan dengan Tuhan.
Dalam “Alia, Gadis Kecilku” si aku liris meyakini bahwa perpisahannya dengan sang bidadari itu sesungguhnya merupakan perjalan baginya untuk sampai pada Tuhan. Jadi, meski metafora yang dibangunnya begitu tenang, mengalun, seperti sebuah rintih kecil yang tak menggugat, ada kegetiran yang tak terucapkan di sebaliknya. Ia pun menempatkannya sebagai sebuah perjalanan untuk kelak jumpa kembali di Surga. … mungkin besok/atau lusa/kita bertemu juga/di surga//
Peristiwa perpisahan itu pula yang juga dirasakan Azhari (“Ibuku Bersayap Merah”) ketika orang-orang tercintanya tak ia jumpai di kampungnya. Meski begitu, Azhari pun berkeyakinan bahwa Tuhan tak akan membiarkannya berpisah tanpa arti. Malaikatlah yang akan membawa mereka berkumpul kembali.
D. Kemalawati dalam “Kita tak Belajar Membaca Tanda-Tanda” dan “Dahaga Laut” membuat persaksian atas kegalauan yang terjadi saat tsunami memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya yang kemudian disusul dengan bertumpuk-tumpuk kegalauan lain yang tak terperikan. Sebuah potret metaforis yang seperti hendak menyihir kita (pembaca) untuk coba melihat dan merasakan sendiri peristiwa itu. Kedua puisi itu laksana pewartaan yang disuarakan melalui dunia batin yang ikut goncang. Berbagai cemas, takut, ngeri, sesal, dan entah segala rasa apa lagi seperti meluncur begitu saja menciptakan potret hitam yang garis-garis gambarnya masih dapat kita cermati. Kemalawati seperti hendak bercerita panjang dalam setiap lariknya yang padat. Hampir setiap lariknya membangun peristiwa yang mengajak kita untuk membayangkan kembali peritiwa 26 Desember itu.
Sebagai penyair (: sastrawan), Kemalawati telah menjalankan tugasnya menyampaikan kesaksian sebuah peristiwa yang terjadi pada zamannya. Tak ada air mata di sana, tetapi kita ikut hanyut dalam galau yang disampaikannya. Lalu, bagaimana ia menyikapi peristiwa itu? Pada larik terakhir kedua puisi itu jawabannya. … mengapa berlari dari masjid yang mengisyaratkan pentingnya kembali menghidupi masjid. Sementara dalam “Dahaga Laut,” Kemalawati masih menyimpan optimisme untuk membangun kembali Aceh dari sisa semangat yang berserakan: memungut kayu-kayu yang berserakan/untuk tiang gubuk kami yang baru//
Doel CP Allisah (“Ingatan”) juga menyampaikan persaksiannya atas musibah itu. Baginya, segenap korban adalah syuhada. Bagaimanapun, hanya kerelaan yang dapat ia lakukan sambil menyampaikan doa yang tak pernah putus. Di balik itu, tsunami makin meneguhkan keyakinannya pada kuasa Sang Khalik yang tak terbatas.
Persaksian yang lain disampaikan Rosni Idham yang keterkejutannya cukup ia katakana: Aku terperangah. Sebuah gebalau psikologis yang berada dalam batas tipis antara percaya dan tidak percaya, antara mimpi buruk dan realitas. Sebuah ekspresi psikis yang sebenarnya tidak mewakili apa-apa, tetapi sekaligus mewakili seluruh goncangan jiwanya yang dahsyat. Bagaimana ketika tiba-tiba jerit histeris, kekacauan, hiruk-pikuk, dan gelombangan tangis menghancurkan ketenangan? … aku terperangah/Aku tak mengerti maknanya/Aku terpajak kehilangan kata//
Sejumlah besar puisi dalam antologi ini sesungguhnya menyimpan begitu banyak peristiwa. Semuanya bersumber dan bermuara pada satu kata: tsunami! Pembicaraan ini jelas sama sekali tidak mengungkapkan keseluruhan persaksian yang disampaikan para penyair Aceh. Dengan demikian, pilihan puisi yang diambil sebagai contoh kasus pembicaraan ini pun, sekadar hendak menegaskan bahwa penyair Aceh, dengan caranya sendiri dan dalam suasana ketercekamannya, masih dapat membuat persaksian tentang musibah mahadahsyat itu. Maka, yang dapat kita tangkap dari persaksian itu adalah usaha mereka untuk menempatkan dan memaknai tsunami sebagai (1) peristiwa yang tidak berdiri sendiri mengingat ada persoalan lain di belakangnya, dan (2) peristiwa yang harus diterima sebagai sebuah hukum alam yang memang sudah terjadi. Maka, menerima dengan ikhlas dan menatap kembali masa depan adalah tindakan yang lebih bertanggung jawab. Bagaimanapun juga, Aceh harus bangkit kembali mengibarkan panji-panji keagungannya.

Melupakan Potret Buram

Bagian Dua yang bertajuk “Makam” menghimpun sejumlah puisi karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami.19 Sebagai korban, pastilah ketiganya tidak berkesempatan memahami dan menempatkan tsunami. Mari kita coba melihatnya:
Ada 26 puisi dalam bagian ini. Lengkapnya: 10 puisi karya M. Nurgani Asyik, 11 puisi karya Maskirbi, dan lima puisi karya Mustiar AR. Dari ke-26 puisi itu, kita dapat merasakan bahwa jeritan paling kuat dari ketiga penyair ini bukanlah kerinduannya pada Sang Khalik, melainkan kecemasannya menyaksikan konflik berdarah yang tak kunjung selesai. Mereka bersaksi tentang Aceh yang terluka oleh tembakan, seorang anak yang membawa lukanya ke surga, anak negeri yang diperkosa kezaliman, rektor yang tak membayangkan kematiannya melalui pintu yang mana, dan serentetan peristiwa berdarah lainnya. Segalanya ingin dikisahkan, sebagaimana yang dikatakan Maskirbi: Banyak yang ingin kutulis/tapi tak tertulis/kata-kata sudah tak lagi sebagai kata// (“Gagap”). Apa maknanya bagi kita ketika persaksian ketiga penyair itu berkisah tentang Aceh yang luka oleh tembakan? Mustiar AR coba mengingatkan kita:
Ya Allah
Engkau Yang Maha Kuasa
damaikan hati saudaraku yang bertikai
tunjuki mereka ke jalan yang Kau ridhai
Amin Ya Rabbal Alamin
Maka, Aceh pascatsunami adalah Aceh yang …memungut kayu yang berserakan/ untuk tiang gubuk kami yang baru// Atau, dalam bahasa Helmi Hass: Menatap esok pagi dengan penuh semangat/Di sanalah ada iman!
***
Ziarah Ombak sungguh mewartakan banyak hal tentang tragedi mahadahsyat. Dalam kegetiran itu, para penyair Aceh mencoba membuat persaksian atas peristiwa itu menurut persepsi dan gebalau kegelisahannya masing-masing. Di belakang gebalau itu, kita seperti menemukan lubang kecil yang dari lubang itulah, terhampar begitu banyak kisah yang tak terucapkan. Ia menyimpan trauma yang bertumpuk-tumpuk. Dan dalam setiap tumpukannya, terpendam keagungan masa lalu Aceh yang dibalut oleh selimut luka berdarah. Lalu datang tsunami sebagai klimaksnya. Jangan ada lagi klimaks yang lain. Cukup sampai di sana. Maka, kinilah saatnya kita melangkah menuju babak baru yang lebih cerah dan bermartabat.
Menunggu Lahirnya Monumen
Karya agung lahir dari kegelisahan sastrawan melalui proses yang “berdarah-darah,” begitulah pernyataan Sutadji Calzoum Bachri dalam sebuah obrolan santai yang terjadi beberapa tahun lalu. Saya percaya pernyataan itu sebagai salah satu pengalaman spiritual seorang penyair—sastrawan dalam berhadapan dengan proses kreatifnya. Tentu saja yang dimaksud berdarah-darah itu adalah pernyataan metaforis untuk menggambarkan perjuangan seorang sastrawan dalam usahanya menemukan model estetik yang diharapkannya yang dalam bahasa Chairil Anwar: menggali kata sampai ke putih tulang!
Mencermati perjalanan panjang Aceh, saya sangat yakin, bahwa sastra Indonesia tinggal menunggu lahirnya sastrawan Indonesia garda depan dari Aceh. Lalu apa yang melandasi sikap optimistis itu?
Pertama, keagungan masa lalu kesultanan Aceh adalah lahan garapan yang begitu kaya dengan keagungan para sultannya dalam mengusung marwah Manusia Aceh, dan serangkaian peristiwa lain yang menghasilkan sejarah besar perjalanan Aceh.
Kedua, kontroversi tentang doktrin teologis sebagaimana yang terjadi pada diri Hamzah Fansur—Abdur Rauf Singkel—Nurruddin Ar-Raniri dengan segala ajaran tasawufnya adalah kekayaan teologis yang kemudian menyebar menyemarakkan pemikiran Islam di Indonesia.
Ketiga, kekayaan kultur Aceh dengan segala model etik, norma sosial, dogma agama, sikap budaya, dan entah apalagi, adalah sumber inspirasi yang lain lagi ketika segala kekayaan kultural itu diterjemahkan dalam karya sastra.
Keempat, luka sejarah, baik yang telah ditorehkan Belanda, Orde Baru, maupun konflik berdarah hanya karena perbedaan ideologi atau perbedaan sudut pandang dalam usaha membangun kembali keagungan Aceh.
Kelima, peristiwa tragedia mahadahsyat tsunami yang tidak sekadar meninggalkan luka psikologis dan harta-benda rakyat Aceh, tetapi juga meninggalkan dan menyimpan begitu banyak misteri dan kisah-kisah metarasional.
Persoalannya kini tinggal, bagaimana sastrawan Aceh menyikapi segala kekayaan itu dan mengolahnya menjadi sebuah mahakarya, menjadi sebuah tonggak, menumen yang kokoh berdiri tegak dalam perjalanan sastra Indonesia.
* Makalah Seminar Sastra dalam Aceh International Literary Festival, diselenggarakan di Museum Tsunami, Banda Aceh, 5 Agustus 2009, Pukul 09.30—12.00.
** Maman S. Mahayana, Pengajar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.
1 Penjadian kesusastraan –dan secara keseluruhan, kebudayaan—Indonesia sesungguhnya tidak dapat dilepaskan dari pengaruh tiga pilar kebudayaan besar yang masuk ke wilayah Nusantara, yaitu kebudayaan India yang membawa Hinduisme dan Budhisme, kemudian kebudayaan Islam melalui kedatangan para gujarat, dan yang terakhir kebudayaan Eropa, terutama yang berhasil ditanamkan pihak kolonial Belanda. Di Pulau Jawa, kebudayaan India ini seperti mendapat lahan subur ketika berhadapan dengan kebudayaan setempat. Maka, ketika Islam masuk dan kesusastraan—kesenian dijadikan sebagai alat penyebaran agama (Islam), ikon-ikon kebudayaan India dan Jawa, sengaja dihadirkan sebagai kemasannya. Itulah sebabnya, Sunan Bonang menciptakan gamelan, dan Sunan Kalijaga menggunakan wayang sebagai alat penyebarluasan agama. Di Sumatera, terutama di Aceh, Semenanjung Melayu, dan Minangkabau, pengaruh kebudayaan India (hinduisme dan budhisme) tidak begitu kuat memasuki wilayah-wilayah itu. Meskipun demikian, penerimaan kebudayaan Islam tidak serta-merta menyisihkan kultur setempat, bahkan terjadi akulturasi.
2 Itulah nama wanita-wanita agung dalam sejarah perjalanan kesultanan Aceh. Sayangnya, di banyak buku pelajaran sejarah, nama-nama itu belum ditempatkan dalam konteks sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Dalam politik kolonial Belanda, peranan mereka sengaja ditenggelamkan untuk mengukuhkan citra mesianisme yang hendak dimainkan Belanda. Maka, ketika surat-surat Kartini dipublikasikan di Belanda, suaranya sampai ke Nusantara dan kemudian dibicarakan secara luas sebagai “peletak dasar” emansipasi wanita Indonesia. Nama-nama mereka, termasuk juga nama Aisyah Sulaiman Riau (lahir sekitar 1870-an—1930-an) nyaris tidak pernah disinggung (lihat Abdul Kadir Ibrahim, dkk, Aisyah Sulaiman Riau: Pengarang dan Pejuang Perempuan, Pekanbaru: Unri Press, 2004). Bandingkan peranan Kartini dengan peranan wanita-wanita Aceh yang disebutkan di atas. Bagaimana usaha Belanda menenggelamkan keagungan tokoh-tokoh wanita Aceh ini, tampak –salah satunya—dari penggambaran peranan Frederick de Houtman. Salah satu karya penting de Houtman adalah tata bahasa dan kamus Melayu—Belanda (1603). Inilah tata bahasa kamus pertama Melayu—Belanda, berjudul Spraek ende woord—boeck: Inde Maleysche ende Madagaskarsche talent met vele Arabische ende Turcsche woorden, 1603, viii + 225 halaman). Mengenai tarik-menarik bahasa Belanda dan Melayu dalam sejarah pendidikan kolonial Belanda di Indonesia, lihat Kees Groeneboer, Jalan ke Barat: Bahasa Belanda di Hindia Belanda, 1600—1950 (Jakarta: Erasmus Taalcentrum, 1995). Sejumlah buku yang menyinggung de Houtman cenderung hanya berkaitan dengan kamusnya itu. Tetapi, bagaimana latar belakang kamus itu disusun? Tak ada satu pun yang membicarakannya. Padahal, kamus itu disusun ketika de Houtman dipenjara di Aceh (1599—1601). Dan yang menangkap dan menjebloskan de Houtman ke penjara, tidak lain adalah Laksamana Keumalahayati, wanita pertama yang menjadi laksmana dalam sejarah maritim Indonesia. Mengenai riwayat tokoh-tokoh wanita Aceh itu, lihat Ismail Sofyan, M. Hasan Basry, dan T. Ibrahim Alfian (Ed.), Wanita Utama Nusantara dalam Lintasan Sejarah, (Jakarta, 1994).
3 Periksa Hasan Muarif Ambary, “Banda Aceh sebagai Pusat Kebudayaan dan Tamaddun,” Kota Banda Aceh Hampir 1000 Tahun, Banda Aceh: Pemda Banda Aceh, 1988, hlm. 86—97. Artikel lainnya dalam buku ini mengungkapkan reputasi kesultanan Aceh, tidak hanya di wilayah Nusantara, tetapi juga menerabas memasuki wilayah Asia dan Eropa. Lihat juga Edi Sedyawati, dkk., Sastra Melayu Lintas Daerah, Jakarta: Pusat Bahasa, 2004, xii + 419 halaman.
4 Perjanjian persahabatan dan perdamaian yang ditandatangani Mayor Jenderal van Swieten dari pihak Belanda dan Sultan Ibrahim Mansur Syah dari pihak Kesultanan Aceh. Perjanjian ini sesungguhnya merugikan pihak Kesultanan Aceh, karena salah satu butir perjanjian itu menyebutkan pengakuan Aceh atas kekuasaan Belanda di Sumatera. Tahun 1858, Belanda melakukan pelanggaran atas perjanjian ini dengan ditandatanganinya sebuah perjanjian Belanda—Siak yang menyatakan bahwa Kerajaan Siak dan wilayah taklukannya, kini berada di bawah kekuasaan Belanda.
5 Selengkapnya, lihat Ibrahim Alfian, “Banda Aceh sebagai Pusat Awal Perang di Jalan Allah,” Kota Banda Aceh Hampir 1000 Tahun, Banda Aceh: Pemda Banda Aceh, 1988, hlm. 26—35.
6 Di dalam novel Hulubalang Raja karya Nur Sutan Iskandar (Balai Pustaka, 1934) digambarkan, bagaimana orang-orang Aceh terkenal dengan kebiasaannya merampok dan membunuh. Maka, kedatangan Belanda selain untuk membantu hulubalang Raja menghadapi para pemberontak, juga dalam rangka menumpas para perampok yang dilakukan orang-orang Aceh. Stigmatisasi itu juga dilakukan pada tokoh-tokoh Arab dan ulama Islam konservatif. Usaha yang dilakukan Gubernur Jenderal Rochussen (1856) dengan memberlakukan huruf Latin untuk berbagai keperluan komunikasi tertulis, resmi atau tidak resmi, di wilayah Nusantara pada hakikatnya tidak berbeda dengan pembutahurufan massal. Tiba-tiba saja, penduduk yang bisa baca-tulis dengan huruf Arab—Melayu (disebut juga huruf Jawi, Pegon, atau Arab Gundul yaitu bahasa Melayu atau bahasa setempat yang menggunakan huruf Arab), dikatakan sebagai buta huruf (niraksarawan) hanya karena tidak dapat menggunakan atay membaca huruf Latin.
7 Pembonsaian yang dilakukan Belanda ditujukan kepada para ulama muslim (tokoh-tokoh Islam) dan poros-poros budaya yang dianggap tidak akan memihak Belanda, dua di antaranya, Aceh dan Melayu. Maka, para penulis Aceh hampir tidak pernah mendapat tempat. Sastrawan Melayu seperti Raja Ali Haji, misalnya, perbincangannya tidak lebih banyak dibandingkan dengan Abdullah bin Abdulkadir Munsyi.
8 Periksa Maman S Mahayana, “Politik Kolonial Belanda di Balik Pendirian Balai Pustaka,” Sembilan Jawaban Sastra Indonesia (Jakarta: Bening Publishing, 2005).
9 Periksa sejumlah tulisan Abdul Hadi WM, antara lain, Sastra Sufi: Sebuah Antologi (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1985), Kembali ke Akar kembali ke Sumber (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999), Hamzah Fansuri: Risalah Tasawuf dan Puisi-Puisinya (Bandung: Mizan, 1995), Islam Cakarawala Estetik dan Budaya (Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000), dan Tasawuf yang Tertindas (Jakarta: Paramadina, 2001). Sejumlah besar penyair Indonesia, termasuk Sitor Situmorang yang non-Muslim, mengakui keterpengaruhannya pada karya-karya Hamzah Fansuri.
10 Dalam sejarah peperangan Belanda di Nusantara, tercatat bahwa perang melawan Aceh adalah peperangan yang paling lama, paling banyak menghabiskan biaya, dan paling banyak menelan korban dari pihak Belanda dibandingkan perang lain yang terjadi di wilayah Nusantara.
11 Konflik Aceh dengan Pemerintah Pusat dimulai dari ketidakpuasan Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang coba menerapkan syariat (Islam) di Aceh. Ketakutan yang berlebihan dari Pemerintah Pusat telah menyebabkan konflik itu berkelanjutan, hingga terbentuk Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang memicu pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM) di Aceh.
12 Azhari dengan sangat bagus menggambarkan traged berdarah itu dalam cerpen “Yang Dibalut Lumut” (Perempuan Pala, Yogyakarta: Akademi Kebudayaan Yogyakarta, 2004).
13 Hampir semua karya yang mengangkat kegetiran rakyat Aceh sebelum terjadi tsunami mewartakan trauma atas konflik berdarah itu. Sekadar menyebut beberapa di antaranya, periksa Alia: Luka Serambi Mekah karya Ratna Sarumpaet (Jakarta: Metafor Publishing, 2003), Aceh Mendesah dalam Nafasku (ed. Abdul Wahid BS, Fikar W. Eda, dan Lian Sahar, Banda Aceh: KaSUHA, 1999), Aceh dalam Puisi (Ed. LK Ara, Bandung: Syaamil Cipta Media, 2003), Rencong karya Fikar W. Eda (Bekasi: KaSuha dan SAJAK, 2003, Cet. II, 2005). Bandingkan ekspresi kegelisahan sastrawan Aceh ini dengan sastrawan Riau sebelum otonomi daerah. Selain pengagungan terhadap masa lalu kerajaan Melayu dengan segala marwahnya, juga gugatan terhadap Jakarta sangat kuat mewarnai ekspresi kegelisahan mereka, meski juga tanpa luka yang diakibatkan oleh perang saudara.
14
D. Kemalawati dan Sulaiman Tripa (Ed.), Ziarah Ombak: Sebuah Antologi Puisi (Banda Aceh: Lapena, 2005, 235 halaman). Pembicaraan tentang buku ini pernah saya sampaikan dalam peluncurannya di Banda Aceh, 22 Oktober 2005. Saya sengaja mengulangi pembicaraan buku ini dengan penambahan di sana-sini untuk memberi gambaran selintas tentang kegelisahan para penyair Aceh dalam berhadapan dengan keagungan masa lalu kesultanan Aceh dengan segala heroismenya, pembonsaian yang dilakukan Belanda, kegetiran akibat konflik bersenjata antara sesama saudara, dan tragedi mahadahsyat tsunami.
15Sebagai wujud keprihatinan dan empati bahwa duka Aceh atas tragedi tsunami itu adalah duka kita, duka Indonesia, tampak dari gelombang solidaritas yang muncul secara spontan dari berbagai kalangan, usia, agama, organisasi dan entah apa lagi. Musibah itu sungguh telah menyentuh rasa kemanusiaan segenap bangsa di dunia. Lalu, seketika itu pula, tiba-tiba setiap orang merasa harus berbuat sesuatu untuk meringankan kedukaan rakyat Aceh. Sejumlah buku tentang ekspresi solidaritas itu, juga diterbitkan, tiga di antaranya, Maha Duka Aceh (Jakarta: PDS HB Jassin, 2005), Duka Atjeh Duka Bersama (Yogyakarta: Logung Pustaka, 2005), dan Amuk Gelombang (Medan, Star Indonesia, 2005). Buku-buku lain pasti masih akan terus bermunculan. Semua menunjukkan ekspresi solidaritas bahwa duka Aceh adalah duka kita, duka Indonesia, duka umat manusia.
16 Dalam politik identitas, konsep “Kita” dan “Mereka” penting artinya untuk memberi kesadaran tentang jatidiri sebuah bangsa atau komunitas. Aceh dalam konteks keindonesiaan adalah bagian dari diri “Kita” yang ditandai berdasarkan kesamaan sejarah perjuangan, afiliasi kultural, sistem pemerintahan, wilayah teritorial (space), dan kewarganegaraan (nationality). Meskipun demikian, sikap chauvinistik yang berlebihan atau ketidakpercayaan pada pemerintah dapat melahirkan ketidaksetiaan yang kemudian berujung pada usaha merumuskan identitas sendiri. Maka, sangat mungkin warga Aceh melihat warga di luar Aceh atau sebaliknya membuat semacam garis pembatas identitas yang ditandai dengan penyebutan “kita” dan “mereka”. Masalah Aceh dalam konteks keindonesiaan itu, tidak dapat lain, kecuali menempatkannya sebagai “Kita” yang didasarkan oleh sejumlah kesamaan yang disebutkan di atas.
17 Mencermati sejumlah besar puisi penyair Aceh sebelum terjadi tsunami, kita akan mendapati ekspresi mereka yang cenderung didominasi oleh trauma konflik bersenjata itu. Trauma psikologis itu tidak lagi menjadi milik orang per orang, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupan keseharian masyarakat. Inilah yang psikoanalisa disebut sebagai ketaksadaran traumatic kolektif. Artinya, kegetiran itu sudah menjadi ketakutan massal. Penyembuhannya hanya mungkin dapat dilakukan jika konflik bersenjata itu sudah benar-benar tidak lagi terjadi di Aceh.
18 Lihat Sigmund Freud, The Future of an Illusion, London: Hogarth Press, 1961. Meskipun Freud menyebutnya sebagai frustasi karena alam, dalam konteks tsunami sebagai fenomena alam, penyair Aceh ini melihat tsunami justru bukan lantaran sikap frustasi, melainkan kesadaran instintif atas keakrabannya dengan Tuhan. Masjid Baitur Rahman kemudian menjadi simbol tempat “bersemayam” Tuhan.
19 Pemuatan karya tiga penyair yang menjadi korban tsunami tentulah dimaksudkan oleh editor buku ini sebagai penghargaan dan penghormatan atas kiprah kepenyairannya.
Kategori: Makalah, Makalah 2009 | Tags: sejarah sastra

Sumber: SASTRA ACEH: SEBUAH PERJALANAN PANJANG » MAHAYANA-MAHADEWA.COM http://mahayana-mahadewa.com/2010/09/11/sastra-aceh-sebuah-perjalanan-panjang/#ixzz1AQW0dEMH

2 komentar:

  1. Membaca tulisan ini, mengingat kembali pertemuan saya dengan Maman S Mahayana yang secara berkelakar mengajaknya ke Aceh pasca tsunami untuk membicarakan buku Ziarah ombak, buku pertama yang diterbitkan Lapena, 2005. Pertemuan di acara MMAS di Hotel Purnama Puncak, Bogor, terus berlanjut dengan hubungan telpon dan sms hingga surat permohonan menjadi pembicara ke FIB UI. Akhirnya Maman dan Hamsad Rangkuti hadir berbicara menjelang buka puasa bersama dalam peluncuran buku Ziarah Ombak pada 22 Oktober 2005 di Mesium Aceh. Makalah ini juga disajikan kembali pada seminar sastra di acara Aceh literary festival pada Agustus 2009 di Mesium tsunami. pembicara saat itu adaah Maman S Mahayana, Katrien Bandel dan D Kemalawati.

    BalasHapus
  2. perjalanan panjang sastra aceh memang lahir dari 'darah dan airmata'. menyikapi situasi yang tak mengenakkan ini butuh orang-orang kuat secara batiniah. mungkin sastera salahsatu jalan dipilih orang aceh.

    salam

    BalasHapus