Header


Senin, 02 Mei 2011

Kamis, 21 April 2011

DUA SAJAK TENTANG KARTINI, SEBUAH PERBANDINGAN

catatan Dimas Arika Mihardja

Pengantar:
Bukan sebuah kebetulan terhadap sosok Raden Ajeng Kartini melahirkan banyak interpretasi. Bagaimanakah "pembacaan" sosok Kartini oleh dua orang penyair berjenis kelamin berbeda, berbeda etnis, dan berbeda suasana? Tulisan sederhana ini bermaksud menyandingbandingkan dua sajak, yakni "Ketika Kartini Berkunjung ke Aceh" (D Kemalawati, Banda Aceh) dan "Ketika Kartini Tak Singgah ke Sekolah" (Ardi Nugroho, Sidoarjo). Kita sandingbandingkan dulu kedua sajak itu.

Ketika Kartini Berkunjung Ke Aceh
(D Kemalawati, Banda Aceh)

Ia memakai kebaya ungu
Sanggul melati dan slop berhak tinggi
Di tangannya pena emas dan sehelai perangko

Sabtu, 02 April 2011

3 KOTA 1 ANTOLOGI 1001 MAKNA

Hary Soedarto Harjono*

Berkumpul bersama adalah permulaan, tetap bersama adalah kemajuan, dan bekerja bersama adalah keberhasilan. Pernyataan Henry Ford ini agaknya tepat mewakili kerja kolaborasi 3 dukun kata dari 3 kota yang menghasilkan antologi sajak 3 di Hati. Jika mengintip latar historis terciptanya antologi ini yang tidak dapat dilepaskan dari atmosfir ‘negeri gurindam” tempat masyhurnya nasihat-nasihat Raja Ali Haji yang bernafaskan Melayu dan Islam, maka aura sastra klasik itu —  setidaknya atmosfir syair, pantun, atau gurindam dan nilai-nilai Islam — dapat diduga mewarnai sajak-sajak yang terhimpun di dalamnya. Meskipun sudah barang tentu penyair juga melakukan transformasi  estetika dan nilai-nilai tersebut dalam proses penciptaan sehingga dihasilkan sajak-sajak universal yang ‘melesat’ meninggalkan lingkungan fisik,sosial,psikologi,dan budayanya. 

Selanjutnya klik di sinihttp://rumohesaikemala.blogspot.com

Selasa, 29 Maret 2011

RUMAH BATU OLAKEMANG


D Kemalawati

Terjepit di antara rumah kayu
rumah batu terkelupas dan rapuh
sarang labalaba di gerobok tua menyeruak
ketika pintu tanpa kunci itu dibuka
kuali-kuali besi telungkup di atas tungku
tanpa abu biru ungu
berhenti disitu,
palang kayu hitam dipasang menyilang
menghalang langkah ke dalam
“lewat samping saja,”  lelaki penjaga warung menunjuk jalan
di atas jembatan kayu, tua, dan berlubang kami berpegangan
menyeberang hijau kolam
berdiri di gapura memandang  ekor naga di kiri kanannya
pandangku menjauh ke tepi batanghari
siapakah yang melempar sauh mengikatnya di dermaga
membawa cenderamata rumpun bambu di lembar sutra
“Datuk kami keturunan saidina,”
terngiang juga cerita ibunda tentang leluhurnya
lelaki penunjuk jalan menunjukkan silsilah pemilik rumah batu, leluhurnya
karena waktu aku tak menyimaknya
“Silakan mengcopynya jika perlu.”
Aku menangkap inginnya sebelum berlalu

Batanghari, 23 Maret 2011

Purnama di Gamalama

D Kemalawati

setelah purnama mendekat 
apa yang kutunggu selain merapat dan berbaring tenang
dalam selimut cintamu
kuharap bila 40 tahun lagi purnama itu kembali
aku tetap seputih kenari
dalam dekapmu

Ternate, 20 Maret 2011

Minggu, 13 Maret 2011

Puisi, saling Menginspirasi



Oleh D Kemalawati

Sumber inspirasi menulis puisi bisa dari mana saja. Pernyataan itu tentu tak perlu kita bantah. Menonton telivisi yang menayangkan bagaimana dahsyatnya gempa bumi melanda sebuah pulau,bagaimana bangunan bertingkat seolah menari-nari saat gempa berskala tinggi menggoyangnya, akan menjadi inspirasi bagi seorang penulis puisi untuk menuliskan syairnya. Bagaimana banjir bandang menghanyutkan gelondongan kayu dengan airnya kuning dan berat meluncur dengan kekuatan dahsyat, menghantam semua penghalang dan menghancur leburkan seluruh infrasruktur yang ada hingga nyawa manusia direnggutnya. Melihat tubuh manusia yang tergulung, berputar diantara air yang memburu kemudian tergeletak dibalut lumpur, tak bergerak, naluri penyair akan berpendar-pendar mencari kata yang tepat menggumamkan rasa dukanya.Selanjutnya klik di sini

Kamis, 10 Maret 2011

MENIMANG CUCU

Kepada Arsyad Indradi

D Kemalawati

Setelah takbir kau perdengarkan
geliatnya kelihatan nyata 
sembari mengucap syukur
kau raba detak jantungmu
menyamakan dengan denyut nadinya
kau simak tangis pertamanya
sebagai puisi berima muda
mendaratlah kasih dalam kecupan
entah telah berapa lama menghidu wanginya
sebelum kau timang dia

Banda Aceh, 10 Maret 2010